Tampilkan postingan dengan label cerpen jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen jepang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2009

cerpen jepang | rashomon


cerpen jepang, rahomon wallpaper

Mengisahkan pertemuan seorang Genin (samurai kelas rendah) dengan seorang perempuan tua di gerbang Rashomon, Kyoto. Konon, gerbang ini juga menjadi tempat pembuangan mayat-mayat tak dikenal hingga tak seorangpun berani mendekatinya di malam hari. Di dera rasa lapar yang hebat, terjadi dilema dalam benak Genin, apakah dia akan terus bertahan disitu atau membuang jauh-jauh harga dirinya dengan menjadi pencuri sebagai jalan terakhir bertahan hidup. Pertemuannya dengan sang perempuan tua awalnya menimbulkan rasa jijik di hati Genin karena melihat ulah perempuan itu yang mencuri rambut mayat-mayat yang tergeletak di Rashomon. Si perempuan tua berkilah bahwa ia terpaksa melakukan itu demi bertahan hidup, ditambah kenyataan bahwa salah satu mayat yang ia curi rambutnya dulu adalah seorang perempuan pedagang daging yang sering menipu konsumennya. Lalu bagaimana dengan Genin? Apakah dia akan terus berpegang pada prinsipnya untuk tidak mencuri?

Ryunosuke Akutagawa adalah penulis Jepang era Taisho yang dijuluki sebagai “Bapak Cerpenis Jepang”. Sepanjang hidupnya, tercatat kurang lebih 150 cerpen yang telah ditulis Akutagawa dimana tujuh diantaranya dimuat dalam buku ini. Kisah Rashomon pertama kali diterbitkan pada tahun 1915 di Teikoku Bungaku dan sampai kini menjadi salah satu topik diskusi sah-tidaknya mencuri sesuatu demi bertahan hidup.

Judul: Rashomon (Kumpulan Cerita)
Pengarang: Akutagawa Ryunosuke
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan Pertama: Januari 2008
Jumlah Halaman: 175 halaman
No. ISBN: 979-910-093-3

Buku yang wajib Anda baca!!!

Minggu, 12 Juli 2009

Zhang Guolao Menunggang Keledai Secara Terbalik



Cerpen anak, cerita pendek dari jepang, kumpulan cerpen jepang

Zhang Guolao, disebut juga Zhang Guo, adalah salah satu dewa dalam aliran Tao. Menurut buku “Tang Shu” (buku mengenai Dinasti Tang), Zhang Guolao benar-benar hidup di Zhong Tiao Shan, provinsi Shanxi. Dia berhasil kultivasi hingga mencapai keabadian. Kaisar Tang Gaozong berulang kali mengundangnya datang ke istana namun ia secara sopan selalu menolak. Permaisuri Wu Zetian berusaha memerintahkan Guolao datang kepadanya. Untuk menghindari permintaan tersebut, Guolao berpura-pura mati di depan kuil. Saat itu sedang musim panas, jadi tubuhnya mulai terurai dan berbau tak enak. Mendengar hal itu, Wu Zetian tidak berusaha lagi. Namun tak lama kemudian, seseorang melihat Guolao di Gunung Heng.

Alasan Tang Xuanzhong berkali-kali mengundang Guolao adalah ingin menanyakan bagaimana cara mencapai keabadian. Saat melihat Guolao sangat tua renta, dia bertanya kepada Guolao, “Anda telah memperoleh Tao, namun kenapa Anda terlihat sangat tua, dengan rambut yang sudah tinggal beberapa lembar dan gigi yang sudah banyak ompong?” Zhang Guolao menjawab, “Saat mencapai setua ini, saya tidak menemukan metode apapun, jadi saya terlihat seperti ini.”Ini memalukan. Tapi jika saya mencabut rambut dan gigi saya, mungkin akan tumbuh yang baru?” Lalu, dia langsung melakukannya. Dia mencabut rambutnya yang tinggal beberapa helai tersebut, juga mencabut giginya saat itu juga. Kaisar yang melihatnya kaget dan sedikit takut, lalu menyuruh pengawalnya untuk mengantar Guolao pulang beristirahat. Tak lama kemudian, mereka kembali lagi ke istana, tapi penampilan Guolao sudah berubah total, tumbuh rambut hitam tebal di kepalanya dan gigi putih yang lengkap menghiasi senyumnya. Semua pejabat istana termasuk kaisar terperangah melihat perubahan itu dan bertanya kepada Guolao apa metode rahasia untuk mencapai muda kembali. Zhang Guolao menolak memberi tahu.

Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong pergi berburu dan mendapatkan seekor rusa besar. Rusa itu agak beda dengan yang lainnya. Pada saat akan dibunuh, Zhang Guolao kebetulan lewat dan menghentikan kaisar. Dia berkata, “Ini rusa khayangan yang telah hidup lebih dari ribuan tahun. Kaisar Han Wudi juga dulu pernah menangkapnya, saya melihatnya dan memberitahukannya hal ini juga, lalu beliau melepaskannya.” Kaisar Tang Xuanzhong bertanya, “Bagaimana Anda ingat ini rusa yang dulu Anda lihat? Ada banyak sekali rusa di dunia ini, dan kejadian itu sudah pasti lama sekali sebelum Anda hidup.” Zhang Guolao menjawab, “Saat Kaisar Han Wudi melepaskan rusa itu, ia memberikan tanda di tanduk kiri rusa itu dengan sepotong metal perunggu.” Lalu Kaisar menyuruh pengawalnya untuk memeriksa tanduk kiri rusa itu dan benar-benar menemukan metal perunggu yang bertuliskan angka. Kaisar bertanya, “Kapan Kaisar Han Wudi pergi berburu menangkap rusa ini?” Sudah berapa lama sampai sekarang?” Zhang Guolao menjawab, “Kejadian itu tepatnya 825 tahun yang lalu.” Kaisar Tang Xuanzhong menyadari, ucapan Guoalao sepenuhnya benar.

Zhang Guolao punya kebiasaan unik, yaitu menunggang keledai putih secara terbalik, sehari berjalan bisa mancapai 10.000 Li. Tentu saja keledai putih itu juga merupakan keledai khayangan, yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas saat ia sedang tak diperlukan tuannya. Ia selalu menunggang keledai dalam posisi yang terbalik untuk mengingatkan manusia akan kekeliruannya.

Dalam buku "Zhuan Falun" tertulis demikian, Zhang Guolao menunggang keledai secara terbalik. Dia menemukan bahwa dengan berjalan ke depan berarti mundur ke belakang, manusia makin lama makin jauh terpisah dari karakter alam semesta. Dalam proses evolusi alam semesta, terutama sekarang setelah memasuki arus pasang komoditi ekonomi, banyak orang yang moralnya sangat rusak, makin lama makin jauh terpisah dari karakter alam semesta Zhen, Shan, Ren (sejati-baik-sabar). Orang-orang di tengah manusia biasa yang mengikuti pasang surutnya arus tidak merasakan taraf kerusakan moral manusia, oleh karena itu sebagian orang masih menganggapnya hal yang baik, hanya orang yang telah meningkat dalam Xiulian Xinxing (kultivasi watak/moral) sekali menoleh ke belakang, baru insyaf bahwa kerusakan moral umat manusia telah sampai pada tahap yang demikian mengerikan.

Rabu, 08 Juli 2009

Rumah Kertas yang bisa Mengahasilkan Uang



a href="http://ceritayangdinanti.blogspot.com/">Cerpen rumah Kertas yang bisa menghasilkan uang, Cerpen jepang

Hari guru telah tiba, kami beberapa orang teman sejawat berkumpul bersama, bercerita tentang guru-guru kami di masa kanak-kanak. Di mata anak-anak kecil guru adalah orang yang serba bisa, cerita punya cerita akhirnya rekan-rekan berebut menceritakan keahlian dan siasat yang dimiliki oleh para guru-guru itu.

Yang satu berkata, gurunya bisa memainkan akordeon dengan bagus, yang lain berkata gurunya pandai bercerita, sehingga teman-teman sekelasnya tidak ingin pulang jika sudah mendengarkan cerita dari gurunya itu. Bahkan ada salah satu rekan saya yang berkata, gurunya memiliki tenaga yang besar sekali, suatu ketika gurunya itu menggunakan satu tangan untuk mengangkat tiga orang teman sekelasnya sekaligus, seperti mengangkat anak ayam.

Semua rekan-rekan dengan antusias bercerita, hanya Halim yang duduk diam di samping tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Kami bertanya kepadanya, "Halim bagaimana dengan gurumu?"

Halim menggosok-gosokkan tangan dan berkata, "Saya,... saya........"

Kelihatannya Halim mempunyai sedikit keraguan, kami semua memandang ke arahnya, akhirnya terlepas juga dari mulutnya. "Guru saya bukan seorang pesulap, tetapi dia mempunyai sebuah rumah kertas yang bisa menghasilkan uang!"

Mendengar perkataannya itu kami semua orang tertawa. Melihat keadaan ini Halim menjadi tidak sabar, selesai minum satu teguk teh dia berkata, "Kalian tidak percaya, baiklah setelah kalian mendengarkan ceritaku ini kalian akan mengerti."

Saat itu saya masih duduk di bangku kelas empat. Suatu ketika kelas kami akan mengadakan tamasya, setiap teman sekelas menyerahkan uang 50 ribu, satu kelas 40 murid jadi uang yang terkumpul adalah 2 juta, uang tersebut dikumpulkan oleh ketua kelas.

Ketua kelas kami waktu itu adalah seorang anak perempuan yang sangat manis, berpawakan kecil, rambutnya dikepang dua seperti tanduk kambing. Tetapi hari itu, dia menangis tersedu-sedu, karena setelah dia selesai berolah raga dan kembali ke dalam kelas, uang yang dia kumpulkan dan letakkan dalam laci bangku dalam kelas telah hilang.

Ayahnya adalah seorang pekerja tambang yang berada di dekat sekolahan kami. Ibunya tidak memiliki pekerjaan, keadaan ekonomi keluarganya tergolong miskin. Uang sejumlah 2 juta bagi dirinya terbilang cukup besar baginya, maka dengan kehilangan uang itu membuatnya menangis tersedu-sedan.

Para guru pengajar dalam kelas itu bergegas datang ke kelas untuk menanyakan situasi dari kejadian itu. Guru Inggris berkata kejadian tersebut sudah jelas pelakunya adalah teman sekelas sendiri, karena waktu hilangnya uang itu hanya beberapa menit saja.

Guru olah raga berkata, "Kalau begitu semua murid duduk kembali di atas bangku masing-masing, kita adakan pemeriksaan satu persatu." Usulan guru olah raga segera mendapatkan persetujuan dari beberapa guru yang lain, para guru berpendapat menggunakan cara ini yang terbaik.

Murid-murid satu kelas tidak ada yang berbicara, suasana dalam kelas sangat tegang. Saat itu datanglah guru matematika kami, dia adalah seorang pria tua yang kurus, dia mengacungkan tangan dan berkata, tidak boleh, tidak boleh diperiksa satu persatu!

Dia berkata dengan tegas serta dengan suara yang sangat keras. Dia berkata kepada para guru yang lain, mohon kepada mereka membiarkan dia menangani masalah ini, serta berjanji pasti akan menemukan kembali uang yang hilang itu.

Sambil berkata demikian guru matematika itu memalingkan badan mengeluarkan sebuah kotak kapur dari bawa meja, kapur tulis yang berada dalam kotak dikeluarkan semua. Tangannya menjadi sangat cekatan sekali, kotak kapur itu dibolak-balik dan dilipat-lipat, sesaat kemudian, kotak kapur itu telah berubah menjadi rumah kertas yang sangat cantik, rumah kertas itu juga disediakan sebuah jendela kecil.

Guru matematika itu mengangkat rumah kertas itu dan berkata, "Murid-murid sekalian, rumah kertas ini adalah sebuah rumah yang bisa menghasilkan uang, sekarang kalian setiap orang boleh berdiam seorang diri di dalam kelas selama satu menit. Gunakan tangan kecil kalian untuk meraba jendela kecil yang ada di rumah kertas itu, Bapak yakin, uang yang hilang itu akan segera terbang kembali ke dalam rumah kertas ini."

Sebentar kemudian, kami semua keluar dari ruang kelas itu, lalu satu persatu masuk ke dalam kelas seorang diri, menanti semua murid satu kelas sudah memenuhi gilirannya. Guru matematika itu langsung di tempat itu juga mengangkat rumah kertas itu. Benar juga dari dalam jendela rumah kertas itu dia mengeluarkan setumpuk uang!

Uang itu setelah dihitung jumlahnya persis 2 juta, satu senpun tidak lebih dan tidak kurang. Teman-teman satu kelas bersorak dengan riang gembira, situasi yang semula sangat tegang segera hilang ........

Bercerita sampai di sini, Halim terdiam untuk sejenak, dia minum seteguk teh lalu berkata, "Mungkin Anda sekalian sudah bisa menerka, tentunya rumah kertas itu tidak bisa menghasilkan uang. Uang yang berada di dalam rumah kertas itu diletakkan oleh teman sekelas yang telah mengambil uang itu, dan orang itu adalah saya."

"Saat itu saya sangat resah ingin memiliki sebuah buku yang berjudul Sepuluh Ribu mengapa. Pikiran kacau telah menyebabkan saya nekad mengambil uang ketua kelas yang diletakkan di bawah meja belajarnya. Jika bukan karena rumah kertas yang dibuat oleh guru matematika itu, sangat mungkin sekali di dalam hati masa kanak-kanak saya akan terukir sebuah tanda penghinaan yang sangat mendalam."

"Beruntung ada sebuah rumah kertas cantik yang bisa menghasilkan uang telah melindungi saya, membuat saya bersyukur dan selalu mengenang dalam hati untuk selama-lamanya..." (Mingxin/lin)